Friday, August 13, 2010

Wartawan Itu..

Pekerjaan wartawan itu kadang membuat saya banyak berpikir tentang hidup. Tak selamanya apa yang kita rasakan benar adanya. Tak selalu apa yang terlihat itu yang terjadi. Meskipun kini saya adalah seorang wartawan media cetak, namun seringkali saya berpikir bahwa saya tidak cocok menekuni dunia ini. Banyak kegundahan, banyak keraguan, banyak keresahan.

Apalagi setelah saya masuk di rubrik metropolitan, dimana lebih fokus menyoroti kehidupan perkotaan Jakarta. Kewajiban meliput peristiwa kadang menjadikan kegiatan reportase sebagai suatu eksploitasi ekspresi. Bagaimana orang sedih harus terlihat teramat nelangsa, dan orang marah harus bisa terbayang sebagai suatu tindakan anarkhi.

Menurut saya ini pekerjaan yang cukup berat. Karena belum tentu si objek berita ingin dideskripsikan seperti apa yang wartawan tulis. Itu seperti pemaksaan pembentukan karakter. Bukan hanya itu saja, tuntutan redaktur untuk cover both side seakan jadi ajang untuk mengadu domba pemberitaan dan menyudutkan.

Kakak perempuan saya berkata, pekerjaan wartawan adalah pekerjaan riskan. Kita harus siap menanggung dosa dari setiap berita yang disampaikan. Terdengar seram memang. Semoga saja setiap berita yang saya buat tidak menimbulkan kerugian bagi yang lain :)

Sejauh ini sih saya masih bisa menikmati profesi wartawan, entah sampai kapan. Yang pasti, saya ingin mencobanya dulu hingga satu tahun sebagai pengalaman. Jam kerja yang fleksibel menjadi satu keuntungan yang saya suka. Hanya saja, saya tidak suka dengan jatah hari libur yang tidak bisa sabtu-minggu, meskipun dalam satu minggu pasti mendapat dua hari libur.

Terbesit pertanyaan dalam pikiran saya. Bagaimana cara agar saya bisa mengetahui jenis pekerjaan apa yang cocok dengan karakter saya ini. Sampai sekarang, jawaban itu belum bisa saya temukan. Saya tak punya hobi, tak punya kegemaran spesifik, hanya memiliki kemampuan terbatas, dan rasanya tidak punya bakat. Tapi saya tak pernah putus berdoa, semoga Yang Maha Kuasa selalu memberikan petunjuk dari setiap apa yang saya kerjakan dan impikan!

Saturday, July 24, 2010

semua hanya teori

katamu dan kata mereka..
cinta itu tanpa syarat
tapi ternyata kau paksa aku untuk berikan rasa sayang yang lebih
kau suruh aku untuk tak selingkuh


katamu dan kata mereka..
cinta itu tulus apa adanya
tapi nyatanya kau racuni pikiranku untuk selalu memoles diri agar cantik dipandang
kau jebak aku dalam sebuah kepalsuan ragawi

cinta ibarat candu
tak bisa ditolak
tak bisa dipaksa
tak bisa dibuat

cinta layaknya benda abstrak tanpa makna
tapi kita bebas memberinya arti


cinta hanyalah teori
teori yang setiap orang bisa mencatat dalam buku sejarah hidupnya

Saturday, May 8, 2010

surat untuk kamu (yang selalu ada di hatiku)

"membedakan perasaan dengan keadaan"
itu kalimat yang berhasil bikin aku mikir semua kesalahanku.

berat, ya bagiku itu hal yang sangat berat.
berat untuk melepas semua kenangan yang pernah kamu toreh di dalam hatiku.
berat untuk bisa mengingkari kalau kamu terlalu berharga saat aku mulai kehilangan.

aku bimbang, entah seperti apa.
aku tak bisa menolak semua apa yang aku rasa.
tapi aku juga tidak bisa merampas kebahagiaanmu bersama duniamu.
satu hal yang aku ingat.
kamu selalu menegaskan bahwa "untuk apa mencintai kalau tidak bisa memiliki"
kamu yang selalu menyatakan cinta adalah sesuatu yang harus diperjuangkan.

kali ini aku sadar betapa besar perjuanganmu untuk mempertahankanku selama setahun kemarin.
sekarang saatnya bagi aku untuk menerima tongkat perjuanganmu.
aku, ya aku, akan berusaha menjadikan perjuangan itu tak lagi sia-sia.
tapi aku tidak bisa bekerja sendiri.
aku butuh bantuan kamu.
setidaknya saat ini aku akan seperti kamu yang dulu.
"aku yang membangun hubungan kita, kamu hanya membantu saja"
mungkin kini itu yang akan aku lakukan.
membangun kembali puing-puing kasih yang tersisa.
aku butuh kamu untuk sekedar membantu
agar pondasi yang aku buat menjadi kokoh.

sekarang dan nanti,
aku akan berusaha mencoba merebut kembali perhatian kamu.
sampai aku tak lagi kamu harapkan.











8 Mei 2010
radio-dalam

Sunday, March 28, 2010

detik-detik menyenangkan..

Sebenarnya kata "menyenangkan" pada judul hanya sebagai penyemangat untuk saya. Besok adalah ahri pertama saya mulai memasuki dunia kerja yang 'sebenarnya'. Dunia dimana saya harus bekerja untuk mendapatkan uang, kepuasan batin, dan tentunya pengalaman hidup.

Excited tapi deg-degan. hehehe..
Tapi saya tahu kalau ini harus dijalani. Yakin dan tetap kerja keras. Kesuksesan selalu membutuhkan pengorbanan dan usaha yang keras. Karena itu saya yakin bisa melaluinya.

amin!

Friday, March 26, 2010

Kerjaan Rejeki

Banyak yang bilang "rejeki gak bakal kemana2 ko, kalo udah rejeki pasti akhirnya dapet juga". Ungkapan itu ternyata baru saja saya alami. Berawal dari ketika lulus kuliah akhir tahun 2009, saya mulai mencari pekerjaan kemana-mana, apply sana-apply sini, interview sana-interview sini, ujung-ujungnya gak ada yang 'nyantol'. Sempat sedikit khawatir dan stress dengan pertambahan hari yang rasanya berganti begitu cepat namun belum juga dapat kerjaan. Sampai pada suatu hari tepatnya sore hari tanggal 22 Maret 2010 saya mendapat telepon dari kantor Tempo yang menawarkan saya untuk menjadi "calon reporter" (sebutan untuk reporter kontrak di Tempo). Kaget tidak percaya tapi juga ada perasaan senang. Saya pantas merasa senang karena beberapa bulan lalu saya sudah menjalani serangkaian tes saringan masuk untuk posisi calon reporter di PT. Tempo Inti Media, namun sayang saya gagal setelah mengikuti tahap akhir tes. Saat tahu bahwa saya tidak lolos, sedikit ada rasa putus asa. Bagaimana tidak, tes saringan masuk terdiri dari 6 tahap yang memakan waktu 1 bulan. Mulai tes psikotes, interview, tes TOEFL hingga medical check-up. Saya gagal di tahap terakhir.

Selepas dari Tempo itu saya mencari-cari lagi pekerjaan yang sesuai dengan jurusan saya, jurnalistik. Berbagai interview untuk berbagai jenis pekerjaan pun saya ikuti. Mulai dari account executive, copywriter, hingga posisi creative untuk Event Organizer, tapi entah kenapa saya merasa kurang sreg. Kegundahan hati ini berlangsung selama saya menganggur. Banyak yang mencemooh saya dan bilang kalau saya terlalu idealis, padahal saya pun kurang paham dengan kata "idealis" yang mereka maksudkan. Kebanyakan dari mereka menganjurkan saya bekerja di bank saja, cukup menjadi customer service, call center atau teller daripada lama menganggur. Saya hanya bisa tersenyum mendengar itu sambil berkata dalam hati, "saya ingin bekerja di media, saya ingin menjadi wartawan." Hanya segelintir orang yang bisa memahami keinginan saya itu dan memberi semangat untuk tetap mencapai harapan saya. Peran kakak dan pacar sangat membantu sebagai pemberi motivasi yang handal.

Harapan mulai tercapai. Telepon kejutan di sore hari itu membuat saya yakin bahwa setiap harapan membutuhkan usaha dan kesabaran. Akhirnya Tempo menjelaskan bahwa mereka membutuhkan 1 orang calon reporter lagi dan mereka memilih saya. Saya pun tak perlu tes atau interview. Saya hanya disuruh datang pada hari Senin untuk tanda tangan kontrak dan mulai langsung menjalani training. Meskipun kontrak untuk 1 tahun tapi saya merasa ini kesempatan bagus untuk saya. Sekarang saya ingin mempersiapkan mental menjadi seorang wartawan dan menetapkan harapan baru untuk karir saya ke depan.

Ternyata pekerjaan pun menganut prinsip rejeki takkan lari kemana.

Thursday, February 25, 2010

asa yang hilang..

kaki tak dapat lagi melangkah
hilang sudah separuh raga
tak bisa kusembunyikan
untaian kasih tak bermakna

langkah tak berderap
emosi tak lagi terlihat
menjauh.. menjauhlah bagai sang fajar
suara hati semakin menjerit
terinjak oleh kesombongan hasrat

bila jalan tak berujung itu yang kau pilih
tiada kan datang segala harap
tinggallah semua asa di dada
tinggalkan beribu kenangan

ucapkan satu kata dari bibirmu
aku kan hilang menyesap rindu
padamu..

Tuesday, February 16, 2010

kritik yang (tidak) membangun

Mendengar kata kritik saya pikiran saya langsung melambung ke berbagai pengalaman saya saat dikritik. Sewaktu saya masih menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Media Publica (Persma di kampus saya, Moestopo) banyak sekali kritik yang datang. Hujaman kritik kerap terlontar dari beberapa reporter saya dan tentunya dari "atasan" saya (Pemimpin Umum). Jujur saja, saya tidak suka dengan kritik, tapi rupanya saya memang tidak bisa mencegah orang untuk tidak mengkritik. Banyak kritik yang masuk di telinga saya, mulai dari cara kerja saya yang dianggap terlalu lunak sampai isi terbitan yang dianggap kurang ‘gres’. Memang mungkin tujuan awal mereka mengkritik saya agar nantinya hasil jurnalistik itu bisa mencapai titik maksimal dari yang diharapkan bersama. Saya lebih senang bila ada yang memberi saran atau solusi dari suatu hal yang dinilai belum maksimal.

Ada beberapa hal yang paling tidak saya sukai dari kritik adalah:
1. Apabila si pemberi kritik tidak tahu dan tidak mengerti tentang apa yang saya lakukan atau kerjakan. Terkadang mereka yang sok tahu ini cuma bisa berkomentar buruk tanpa ada rasa simpati sedikit pun dan merasa dirinya paling benar.
2. Saya tidak akan respek terhadap kritik yang ditujukan kepada saya apabila disampaikan tanpa adanya tawaran solusi atau saran yang bisa membuat lebih baik. Orang yang seperti ini saya kategorikan sebagai "tong kosong nyaring bunyinya".
3. Kritik disampaikan dengan bahasa yang kasar dan tanpa etika. Hal yang satu ini membuat saya ingin menutup kuping rapat2 atau segera pergi dari hadapan sang pengkritik, dan bila tak tahan juga kemungkinan terburuk akan berujung pada pertengkaran.

Seseorang pernah bercerita kepada saya mengenai kritikan. Hasil jerih payah dia dikritik habis-habisan, lebih tepatnya dihina di depan banyak orang. Bukan kritiknya yang dia permasalahkan tapi penyampaian kritik itu yang membuat darahnya langsung mendidih karena emosi. Bagaimana tidak, hasil kerjanya untuk menghasilkan karya jurnalistik dibilang sebagai "SAMPAH". Saya rasa itu bukan kritik lagi namanya, tapi sudah menjurus pada penghinaan. Tak hanya itu, saat ditanya bagian mana yang dianggap "sampah" pengkritik tadi tidak menjelaskan secara eksplisit. Wajar saja bila hubungan kedua orang tadi (pengkritik dan yang dikritik) menjadi renggang. Bukannya menghasilkan hal yang lebih baik malah menciptakan rasa permusuhan diantara keduanya.

Jadi, kategori kritik yang baik dan membangun  (menurut saya) harus kebalikan dari 3 hal yang telah saya sebutkan sebelumnya. Kritik tak boleh asal dilontarkan karena bukan tak mungkin kritik itu akan berbalik kepada Anda lebih tajam lagi.